ALLAH ADA & BERADA DI ATAS ‘ARSY

oleh: Abdurrahman Ahmad

Perkataan “Allah ada tanpa tempat dan arah” sama artinya dengan “Allah tidak berada di mana pun.”

Apa ada sesuatu yg ada namun tidak berada di manapun? Tidak akan pernah ada. Sebab hanya yang tidak ada yang tidak berada di mana pun.

Oleh karena itu jika kita beriman Allah itu ada maka haram bagi kita mengatakan Allah ada tanpa tempat dan arah. Sebab itu sama aja artinya mengatakan Allah tidak ada. Sebab hanya yang tidak ada yang tidak berada di mana pun.

Apa bukti bahwa “hanya yang tidak ada yang tidak berada di manapun”? Buktinya gampang, yaitu jika kita tanya: 

– “Di manakah yang tidak ada?” maka jawabnya pasti, “Yang tidak ada tidak berada di mana pun, sebab memang tidak ada.”
– “Di arah mana yang tidak ada itu?” maka pasti jawabnya, “Yang tidak ada tidak berada di arah manapun, sebab memang tidak ada.”

Orang yang meyakini Allah itu ada namun mengatakan ada tanpa tempat dan arah adalah orang-orang yang secara tidak sadar telah menyifati Allah dengan ketiadaan.

Imam Adz-Dzahabiy berkata :

مقالة السلف وأئمة السنة بل والصحابة والله ورسوله والمؤمنون، أن الله عز وجل في السماء، وأن الله على العرش، وأن الله فوق سماواته، وأنه ينزل إلى السماء الدنيا، وحجتهم على ذلك النصوص والآثار.
ومقالة الجهمية: أن الله تبارك وتعالى في جميع الأمكنة، تعالى الله عن قولهم، بل هو معنا أينما كنا بعلمه.
ومقال متأخري المتكلمين: أن الله تعالى ليس في السماء، ولا على العرش، ولا على السموات، ولا في الأرض، ولا داخل العالم، ولا خارج العالم، ولا هو بائن عن خلقه ولا متصل بهم! وقالوا: جميع هذه الأشياء صفات الأجسام والله تعالى منزه عن الجسم!
قال لهم أهل السنة والأثر: نحن لا نخوض في ذلك، ونقول ما ذكرناه اتباعا للنصوص، وإن زعمتم… ولا نقول بقولكم، فإن هذه السلوب نعوت المعدوم، تعالى الله جل جلاله عن العدم، بل هو موجود متميز عن خلقه، موصوف بما وصف به نفسه، من أنه فوق العرش بلا كيف.

“Perkataan salaf dan para imam sunnah, bahkan para shahabat, Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman : Bahwasannya Allah ‘azza wa jalla di langit. Dan bahwasannya Allah berada di atas ‘Arsy, di atas langit-langit-Nya. Ia turun ke langit dunia. Hujjah mereka atas hal itu adalah nash-nash dan atsar-atsar.

Adapun perkataan Jahmiyyah : Allah tabaaraka wa ta’ala ada di seluruh tempat. Maha Tinggi Allah dari perkataan mereka itu. Namun, Allah bersama kita di mana saja kita berada dengan ilmu-Nya.

Dan perkataan ahli kalam muta’akhirin : Allah ta’ala tidak di langit, tidak di atas ‘Arsy, tidak di atas langit-langit-(Nya), tidak di bumi, tidak berada di dalam alam, tidak di luar alam, tidak terpisah dari makhluk-Nya, dan tidak pula melekat dengannya !. Mereka berkata : ‘Semua hal ini merupakan sifat jism, dan Allah ta’ala suci dari sifat jism’.

Orang-orang yang berpegang pada sunnah dan atsar berkata kepada mereka : ‘Kami tidak akan berlarut-larut dalam hal itu. Kami mengatakan apa yang telah kami sebutkan tentangnya, yaitu mengikuti nash-nash. Dan seandainya kalian menyangkakan sesuatu, …. maka kami tidak akan berkata dengan perkataan kalian, karena pernyataan-pernyataan tersebut adalah sifat-sifat bagi sesuatu yang tidak ada (ma’duum). Maha Tinggi Allah jalla jalaaluhu dari ketiadaan. Bahkan Ia ada (maujuud) lagi terpisah dari makhluk-Nya. Allah disifati dengan apa-apa yang Ia sifatkan dengannya bagi diri-Nya, bahwasannya Ia di atas ‘Arsy tanpa perlu ditanyakan ‘bagaimana’” [Al-‘Ulluw lil-‘Aliyyil-Ghaffaar, Adz-Dzahabiy, hal. 107, Al-Maktabah As-Salafiyyah, Cet. 2/1388 H]

Sesuatu yang ada itu pasti berada. Sebab kata “berada” berasal dari kata “ada”, dan kata “ada” akan membentuk kata “berada”. Jadi sangat mustahil ada sesuatu yang ada namun tidak berada di mana pun.

– ada pasti berada
– tidak ada pasti tidak berada di manapun

Tidak bisa dikatakan ada namun tidak berada di manapun, sebab itu artinya menggabungkan dua hal yang berlawanan, yaitu antara “ada” dengan “tidak berada”. Sama seperti kalimat “naik ke bawah” atau “turun ke atas”. Itu kalimat mustahil yang menggabungkan dua hal yang berlawanan.

Jadi jika kita mengaku sebagai orang beriman yang meyakini keberadaan Allah Ta’ala dan beribadah hanya kepada Allah, maka kita harus menolak aqidah “Allah ada tanpa tempat dan arah.” Sebab itu adalah aqidahnya kaum ahli kalam yang kebingungan sampai-sampai menggabungkan dua hal yang berlawanan. Mereka menyifati Allah yang ada dengan sifat ketiadaan. Sungguh mereka sangat sesat.

Orang yang beriman akan meyakini Allah itu ada, Maha Tinggi, dan berada di atas arsy. Itulah aqidah umat islam yang sebenarnya, aqidahnya Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, para sahabat, dan tabi’in, serta ulama-ulama ahli sunnah wal jamaah yang sejati.

AQIDAH RASULLULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM & SAHABAT

أخبرنا علي بن القرشي أنبأنا محمد بن مسلمة أنبأنا على بن الحسن الحافظ ح وكتب إلينا إبن قدامة أنبانا حنبل قالا أخبرنا هبة الله ابن محمد أنبأنا الحسن بن علي أنبأنا أحمد بن جعفر حدثنا عبد الله بن أحمد حدثني أبي حدثنا عبد الرزاق حدثنا بن العلاء عن عمه شعيب ابن خالد حدثني سماك بن حرب عن عبد الله بن عميرة عن عباس بن عبد المطلب قال كنا بالبطحاء جلوسا مع رسول الله فمرت سحابة فقال رسول الله أتدرون ما هذا قلنا السحاب قال والمزن قلنا والمزن قال والعنان فسكتنا قال هل تدرون كم بين السماء والأرض قلنا الله ورسوله أعلم قال بينهما مسيرة خمسمائة سنة من كل سماء إلى سماء مسيرة خمسمائة سنة وكثف كل سماء مسيرة خمسمائة سنة وبين السماء السابعة بحر بين أسفله وأعلاه كما بين السماء والأرض والله تعالى فوق ذلك وليس يخفى عليه شيء من أعمال بني آدم

“Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Aliy bin ‘Aliy Al-Qurasyiy : Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Maslamah : Telah memberitakan kepada kami ‘Aliy bin Al-Hasan Al-Haafidh. – Menuliskan kepada kami Ibnu Qudamah : Telah memberitakan kepada kami Hanbal. – Mereka berdua (‘Aliy bin Al-Hasan dan Ibnu Qudamah) berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Hibatullah bin Muhammad : Telah memberitakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Aliy : Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq : Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Alaa’, dari pamannya yang bernama Syu’aib bin Khaalid : Telah menceritakan kepadaku : Sammaak bin Harb, dari ‘Abdullah bin ‘Amiirah, dari ‘Abbas bin ‘Abdil-Muthallib, ia berkata : Kami pernah berada di Bath-haa’ duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncullah awan. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya : “Apakah kalian tahu apakah ini ?”. Kami berkata : “Awan”. Beliau bersabda : “Dan mendung”. Kami pun berkata : “Dan mendung”. Beliau menambahkan : “Dan mega”. Kami pun diam. Beliau melanjutkan : “Tahukah kamu sekalian berapa jarak antara langit dan bumi ?”. Kami menjawab : ”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda : ”Antara langit dan bumi jaraknya 500 tahun perjalanan, dan antara satu langit ke langit lainnya jaraknya 500 tahun perjalanan, sedangkan ketebalan masing-masing langit adalah 500 tahun perjalanan. Antara langit yang ketujuh dengan ’Arsy ada samudera, dan antara dasar samudera itu dengan permukaannya seperti jarak antara langit dan bumi. Allah ta’ala di atas semua itu dan tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatu apapun dari perbuatan anak keturunan Adam” [Al-’Ulluw lil-’Aliyyil-Ghaffaar, oleh Adz-Dzahabi, hal. 49, Al-Maktabah As-Salafiyyah, Cet. 1/1388 H]

حَدَّثَنَا بَحْرُ بْنُ نَصْرِ بْنِ سَابِقٍ الْخَوْلانِيُّ، قَالَ: ثنا أَسَدٌ، قَالَ: ثنا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَاصِمِ ابْنِ بَهْدَلَةَ، عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: ” مَا بَيْنَ سَمَاءِ الدُّنْيَا وَالَّتِي تَلِيهَا مَسِيرَةَ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَبَيْنَ كُلِّ سَمَاءٍ مَسِيرَةَ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَبَيْنَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ وَبَيْنَ الْكُرْسِيِّ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَالْعَرْشُ فَوْقَ السَّمَاءِ، وَاللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَوْقَ الْعَرْشِ، وَهُوَ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ “
Telah menceritakan kepada kami Bahr bin Nashr bin Saabiq Al-Khaulaaniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Asad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari ‘Aashim bin Bahdalah, dari Zirr bin Hubaisy, dari Ibnu Mas’uud, ia berkata : “Jarak antara langit dunia dan langit di atasnya sejauh perjalanan selama 500 tahun. Jarak antara setiap langit dengan langit lainnya sejauh perjalanan selama 500 tahun. Jarak antara langit ketujuh dan kursi sejauh perjalanan selama 500 tahun. Dan ‘Arsy di atas langit, dan Allah tabaaraka wa ta’ala berada di atas ‘Arsy. Ia mengetahui apa yang kalian lakukan” [At-Tauhiid, Ibnu Khuzaimah, hal. 242-243, Daarur-Rusyd, Cet. 1/1408 H]

Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu berkata :

والعرش على الماء والله على العرش يعلم ما أنتم عليه

“‘Arsy itu di atas air dan Allah di atas ‘Arsy. Ia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jamul-Kabiir no. 8987. Al-Haitsami berkata : “Rijalnya adalah rijal shahih”].

Imam Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata:

وعن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : ((ما بين السماء القصوى والكرسي خمسمائة عام، وبين الكرسي والماء كذلك، والعرش فوق الماء، والله فوق العرش، ولا يخفى عليه شيء من أعمالكم)). رواه اللالكائي والبيهقي، بإسناد صحيح عنه

“Dan dari ‘Abdullah bin Mas’uud radliyllaahu ‘anhu, ia berkata : ‘Jarak antara langit yang paling tinggi dengan kursi adalah limaratus tahun. Begitu juga jarak antara kursi dengan air. Dan ‘Arsy berada di atas air. Dan Allah berada di atas ‘Arsy, tidak ada sesuatupun tersembunyi atas-Nya dari amal-amal kalian’. Diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dan Al-Baihaqiy dengan sanad shahih darinya” [Al-‘Arsy, 2/129, Adlwaaus-Salaf, Cet. 1/1420 H]

AQIDAH TABI’IN

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحِ الْبَزَّازُ، ثنا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ، عَنِ ابْنِ الْمُبَارَكِ، قَالَ: قِيلَ لَهُ: كَيْفَ نَعْرِفُ رَبَّنَا؟ قَالَ: ” بِأَنَّهُ فَوْقَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى الْعَرْشِ، بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ “

Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Ash-Shabbaah Al-Bazzaaz : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Al-Hasan bin Syaqiiq, dari Ibnul-Mubaarak (salah seorang ulama generasi tabi’in mulia lagi masyhur). Syaqiiq berkata : Dikatakan kepadanya : “Bagaimana kita mengetahui Rabb kita ?”. Ia (Ibnul-Mubaarak) berkata : “Bahwasannya Allah berada di atas langit yang ketujuh, di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya” [Diriwayatkan oleh Abu Sa’iid Ad-Daarimiy dalam Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah, hal. 39-40 no. 67, Ad-Daarus-Salafiyyah, Cet. 1/1405 H]

AQIDAH IMAM MADHZAB

قال الإمام أبو حنيفة: من قال لا أعرف ربي في السماء أم في الأرض فقد كفر، وكذا من قال إنه على العرش، ولا أدري العرش أفي السماء أم في الأرض

Imam Abu Hanifah mengatakan: “Barangsiapa mengatakan: aku tidak tahu Tuhanku, apa Dia di langit atau di bumi, maka ia telah kafir! Begitu pula orang yang mengatakan: Sesungguhnya Dia di atas Arsy, tapi aku tidak tahu Arsy, apakah di langit atau di bumi?” (Al-Fikhul Absath, hal: 49. Majmu’ fatawa Ibnu Taimiyah 5/48. Ijtima’ juyusy islamiyah, hal: 139. Al-Uluw lidz Dzahabi, hal: 101-102. Al-Uluw libni Qudamah, hal: 116. Syarah thohawiyah libni Abil Izz, hal: 301)

قال الإمام أبو حنيفة للمرأة التي سألته أين إلهك الذي تعبده؟ قال: إن الله سبحانه وتعالى في السماء دون الأرض، فقال رجل: أرأيت قول الله تعالى: {وَهُوَ مَعَكُمْ} قال: هو كما تكتب للرجل إني معك وأنت غائب عنه

Ada wanita bertanya kepada Imam Abu Hanifah: “Dimana tuhanmu yang kau sembah itu?”. Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala di atas langit, bukan di bumi”. Lalu ada seorang lelaki mengatakan: “Bukankah kau tahu firman Allah ta’ala: Dia (Allah) itu bersama kalian?!” (surat Al-Hadid:4). Maka beliau mengatakan: “Itu seperti kamu menulis surat kepada orang lain: sungguh aku bersamamu, padahal kamu tidak bersamanya”. ( Al Asma Wa Shifat hal 429 karya Al Imam Al Baihaqi rahimahullah)

قال الإمام أبو حنيفة: ونقر بأن الله تعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة

Imam Abu Hanifah mengatakan: “Kami mengikrarkan bahwa Allah ta’ala berada di atas Arsy, dan Dia tidak membutuhkannya. (Syarhul Washiyah, hal: 10)

حدثني أبي رحمه الله حدثنا سريج بن النعمان حدثنا عبدالله بن نافع قال كان مالك بن أنس يقول الايمان قول وعمل ويقول كلم الله موسى وقال مالك الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء

Telah menceritakan kepadaku ayahku rahimahullah : Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An-Nu’maan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Naafi’, ia berkata : “Maalik bin Anas pernah berkata : ‘Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, Allah berbicara kepada Muusaa, Allah berada di atas langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat – tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya” [As Sunnah, ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, hal. 280 no. 532, Daaru ‘Aalamil-Kutub, Cet. 4/1416 H]

Imam Syafi’i berkata:

الْقَوْلُ فِيْ السُّنَّةِ الَّتِيْ أَنَا عَلَيْهَا وَرَأَيْتُ عَلَيْهَا الَّذِيْنَ رَأَيْتُهُمْ مِثْلُ سُفْيَانَ وَمَالِكٍ وَغَيْرِهِمَا الإِقْرَارُ بِشَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَأَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ سَمَائِهِ …

Aqidah yang saya yakini dan diyakini oleh orang-orang yang pernah aku temui seperti Sufyan, Malik dan selainnya adalah menetapkan syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah dan bahwasanya Allah di atas arsy-Nya yakni di atas langitnya. (Adab Syafi’I wa Manaqibuhu, Ibnu Abi Hatim ar Razi, hal. 93)

قال الإمام ابن الإمام عبد الرحمن بن أبي حاتم الرازي حدثنا أبو شعيب وأبو ثور عن أبي عبد الله محمد بن إدريس الشافعي رحمه الله تعالى قال القول في السنة التي أنا عليها ورأيت أصحابنا عليها أهل الحديث الذين رأيتهم وأخذت عنهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الاقرار بشهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وأن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وأن الله تعالى ينزل إلى سماء الدنيا كيف شاء

Telah berkata Al-Imam Ibnul-Imam ‘Abdirrahman bin Abi Hatim Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Abu Syu’aib dan Abu Tsaur, dari Abu ‘Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah ta’ala, ia berkata : “Perkataan yang masuk dalam perkara Sunnah dimana aku berada di atasnya, dan aku melihat para shahabat kami juga berada di atasnya dari kalangan Ahlul-Hadits yang aku saksikan dan aku mengambil ilmunya seperti Sufyan, Malik, dan selainnya : (Yaitu) Penegaskan atas kesaksian bahwasannya tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwasannya Muhammad itu utusan Allah. Sesungguhnya Allah ta’ala berada di atas ‘Arsy-Nya di atas langit-Nya, mendekat kepada makhluk-Nya sebagaimana yang Ia kehendaki. Dan sesungguhnya Allah ta’ala turun ke langit dunia menurut bagaimana yang Ia kehendaki” (Adab Syafi’I wa Manaqibuhu, Ibnu Abi Hatim ar Razi, hal. 93) – (Ijtimaa’ul-Juyuusy hal. 118 oleh Ibnul-Qayyim; Maktabah Al-Misykah)

Imam Ahmad bin Hanbal berkata

وهو على العرش فوق السماء السابعة. فإن احتج مبتدع أو مخالف بقوله تعالى {وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيد} وبقوله عز وجل : {وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ} أو بقوله تعالى : {مَا يكُونُ مِنْ نَجْوى ثلاثة إلا هُوَ رَابِعُهُمْ} ونحو هذا من متشابه القران

“Ia (Allah) berada di atas ‘Arsy, di atas langit ketujuh. Sesungguhnya ahli bid’ah atau orang yang menyimpang dari kebenaran berhujjah dengan firman-Nya : ‘Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya’ (QS. Qaaf : 16), atau dengan firman-Nya : ‘Dan Ia (Allah) bersama kalian di mana saja kalian berada’ (QS. Al-Hadiid : 4), atau dengan firman-Nya : ‘Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya’ (QS. Al-Mujaadilah : 7), dan yang lainnya dari ayat-ayat Al-Qur’an yang mutasyaabih” [As-Sunnah oleh Ahmad bin Hanbal melalui kitab Al-Masaail war-Rasaail Al-Marwiyyatu ‘anil-Imaam Ahmad fil-‘Aqiidah oleh ‘Abdullah Al-Ahmadiy, 1/318-319; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1412 H]

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan kepada orang-orang Jahmiyyah :

لم أنكرتم أن يكون الله على العرش وقد قال تعالى الرحمن على العرش
استوى 5 طه وقال خلق السموات والأرض في ستة أيام ثم استوى على العرش

“Mengapakah kalian mengingkari bahwa Allah itu ada di atas ‘Arsy padahal Allah ta’ala telah berfirman : “Yang Maha Pengasih yang istawa di atas ‘Arsy.” Dan Dia juga berfirman : “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia istawa di atas ´Arsy.”
(Ar-Radd ‘Alal-Jahmiyah hal.142)

عن أبي بكر المروذي قال: سألت أحمد بن حنبل عن الأحاديث التي تردها الجهمية في الصفات والرؤية والإسراء وقصة العرش فصححها، وقال: تلقتها الأمة بالقبول وتمر الأخبار كما جاءت

Abu Bakar al-Marudzi mengatakan: Aku pernah bertanya kepada Ahmad bin Hambal tentang hadits-hadits yang ditolak oleh kelompok Jahmiyah, dalam hal sifat-sifat Alloh, ru’yah (melihat Alloh), isro’ mi’roj, kisah Arsy, maka beliau menshohihkan hadits-hadits tersebut. Beliau mengatakan: “Seluruh umat telah menerimanya, dan memperlakukannya dengan apa adanya”. (Manaqibusy Syafii libni Abi Hatim, hal. 182)

Imam Ahmad berkata diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ya’laa rahimahumallaah

قيل لأبي عبد الله : والله تعالى فوق السماء السابعة على عرشه بائن من خلقه. وقدرته وعلمه بكل مكان ؟. قال : نعم، على عرشه لا يخلو شيء من علمه

“Dikatakan kepada Abu ‘Abdillah : ‘(Apakah) Allah ta’ala berada di atas langit yang tujuh, di atas ‘Ars-Nya, terpisah dari makhluk-Nya. Adapun Kekuasan-Nya dan Ilmu-Nya berada di setiap tempat ?’. Beliau menjawab : ‘Benar, (Allah) berada di atas ‘Arsy-Nya. Tidak ada sesuatupun yang luput dari Ilmu-Nya” [Thabaqaat Al-Hanaabilah 1/341]

IJMA’ ULAMA AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH

Imam Qutaibah bin Sa’id berkata:

هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله:الرحمن على العرش استوى

“Ini perkataan para imam di Islam, Sunnah, dan Jama’ah ; kami mengetahui Robb kami di langit yang ketujuh di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana Allah Jalla Jalaaluhu berfirman : Ar-Rahmaan di atas ‘arsy beristiwa” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103 no 434)

Imam Adz-Dzahabi berkata, “Dan Qutaibah -yang merupakan seorang imam dan jujur- telah menukilkan ijmak tentang permasalahan ini. Qutaibah telah bertemu dengan Malik, Al-Laits, Hammaad bin Zaid, dan para ulama besar, dan Qutaibah dipanjangkan umurnya dan para hafidz ramai di depan pintunya” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103)

Atsar Al-Imaam Qutaibah bin Sa’iid rahimahullah tersebut shahih. Yang disebutkan oleh Adz-Dzahabiy merupakan bagian dari perkataan beliau yang panjang mengenai ketetapan-ketetapan ‘aqiidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Atsar tersebut diriwayatkan oleh Abu Ahmad Al-Haakim rahimahullah sebagai berikut:

سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْحَاقَ الثَّقَفِيَّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا رَجَاءٍ قُتَيْبَةَ بْنَ سَعِيدٍ، قَالَ: ” هَذَا قَوْلُ الأَئِمَّةِ الْمَأْخُوذِ فِي الإِسْلامِ وَالسُّنَّةِ: الرِّضَا بِقَضَاءِ اللَّهِ، ………وَيَعْرِفَ اللَّهَ فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا قَالَ: الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى

Aku mendengar Muhammad bin Ishaaq Ats-Tsaqafiy, ia berkata : Aku mendengar Abu Rajaa’ Qutaibah bin Sa’iid berkata : “Ini adalah perkataan para imam yang diambil dalam Islam dan Sunnah : ‘Ridlaa terhadap ketetapan Allah…… dan mengetahui Allah berada di langit yang tujuh, di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana firman Allah : ‘Ar-Rahmaan di atas ‘Arsy beristiwa’. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah’ (QS. Thaha : 5)…..” [Syi’aar Ashhaabil-Hadiits, hal. 30-34 no. 17, tahqiq : As-Sayyid Shubhiy As-Saamiraa’iy, Daarul-Khulafaa’, Cet. Thn. 1404 H; sanadnya shahih].

Muhammad bin Ishaaq Ats-Tsaqafiy, ia adalah Abul-‘Abbaas As-Sarraaj; seorang yang haafidh, tsiqah, lagi mutqin. Lahir tahun 218 H, dan wafat pada usia 95/96/97 tahun [lihat : Zawaaid Rijaal Shahiih Ibni Hibbaan oleh Yahyaa bin ‘Abdillah Asy-Syahriy, hal. 1117-1124 no. 520, desertasi Univ. Ummul-Qurra’].

Catatan penting: Abu Ahmad Al-Haakim, lahir tahun 285 H, dan wafat tahun 378 H. Abul-‘Abbaas As-Sarraaj sendiri merupakan syaikh dari Al-Haakim [lihat muqaddimah kitab Syi’aar Ashhaabil-Hadiits, hal. 11]. Oleh karena itu, tidak benar klaim mukhaalif bahwa Abu Ahmad Al-Haakim tidak meriwayatkan dari As-Sarraaj. Apalagi jelas, Al-Haakim menyampaikan riwayat dengan perkataan : ‘sami’tu’ (aku mendengar) dari As-Sarraaj.
Adapun Qutaibah bin Sa’iid, maka telah mencukupi apa yang disebutkan di atas. Beliau lahir tahun 150 H, dan wafat tahun 240 H [At-Taqriib, hal. 799 no. 5557, tahqiq : Abu Asybal Al-Baakistaaniy; Daarul-‘Aashimah].

Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah (w. 324 H) berkata:

وأجمعوا . . أنه فوق سماواته على عرشه دون أرضه ، وقد دل على ذلك بقوله : {أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض}، وقال : {إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه}. وقال : {الرحمن على العرش استوى}، وليس استواءه على العرش استيلاء كما قال أهل القدر، لأنه عز وجل لم يزل مستوليا على كل شيء

“Dan mereka (para ulama Ahlus-Sunnah) bersepakat….. bahwasannya Allah berada di atas langit-langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, bukan di bumi-Nya. Dan hal itu ditunjukkan melalui firman-Nya : ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu’ (QS. Al-Mulk : 16). Dan Allah berfirman : ‘Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya’ (QS. Faathir : 10). Allah berfirman : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwaa’ di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). Dan bukanlah yang dimaksud istiwaa’-nya Allah di atas ‘Arsy itu adalah istilaa’ (menguasai) sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Qadariyyah. Karena Allah ‘azza wa jalla senantiasa berkuasa atas segala sesuatu” [Risaalatun ilaa Ahlits-Tsaghr, Abul-Hasan Al-Asy’ariy, hal. 231-234, Maktabah Al-‘Uluum wal-Hikam, Cet. 2/1422 H]

Imam Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy rahimahullah (w. 449 H) berkata:

ويعتقد أصحاب الحديث ويشهدون أن الله سبحانه وتعالى فوق سبع سمواته على عرشه مستوٍ، كما نطق به كتابه في قوله عز وجل في سورة يونس: إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ)…

“Para ahli hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwasannya Allah subhaanahu wa ta’ala berada di atas tujuh langit, di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Kitab-Nya dalam surat Yuunus : ‘Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan’ (QS. Yuunus : 3)…” [‘Aqiidatus-Salaf wa Ashhaabil-Hadiits, hal. 44, Daarul-Minhaaj, Cet. 1/1423 H]

Itulah aqidahnya ahli sunnah wal jamaah yang sebenarnya, adapun aqidah “Allah ada tanpa tempat dan arah” adalah aqidahnya ahli kalam dan orang-orang syiah rafidhah.

Ulama syiah Al-Kulaini berkata:

وَ رُوِيَ أَنَّهُ سُئِلَ ( عليه السلام ) أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ سَمَاءً وَ أَرْضاً فَقَالَ ( عليه السلام ) أَيْنَ سُؤَالٌ عَنْ مَكَانٍ وَ كَانَ اللَّهُ وَ لَا مَكَانَ

Dan diriwayatkan bahwasanya Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salam ditanya : Dimanakah Robb kami sebelum menciptakan langit dan bumi?, maka Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salaam berkata, “Mana pertanyaan tentang tempat?! padahal Allah dahulu tanpa ada tempat (Al-Kaafi 1/90 dalam بَابُ الْكَوْنِ وَ الْمَكَانِ)

Jadi sangat aneh jika ada orang yang mengaku sebagai sunni (ahli sunnah wal jama’ah) namun mempunyai aqidah yang sama dengan syiah, sebab kaum syiah sangat terkenal penyelisihannya terhadap kaum sunni (umat islam). Kaum syiah selalu berusaha membedakan diri dengan sunni dalam aqidah dan amalan.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Aqidah Islam. Tandai permalink.