MENDUDUKKAN FATWA

Membaca sebuah tulisan dibutuhkan kesabaran dan jiwa yg tenang. Daya tangkap sangat dipengaruhi oleh hati. Ketika hati sudah kotor maka akan mempengaruhi buah pikiran kita. Hasilnya akan berfikir sempit dan picik.

Membaca seluruh fatwa ulama tentang PEMILU harus disikapi dengan cermat.

1. Apakah para ulama memahami kondisi pemilu di sini yg penuh dengan kecurangan, politik uang, fitnah, dan menghalalkan segala cara.

Boleh jadi para ulama menganggap pemilu tersebut murni tidak ada unsur JUDI dan FITNAH, seperti PEMILIHAN KETUA RT.
Kalau pemilunya sama kayak pemilihan RT, mungkin bisa kita terapkan fatwa tersebut.
Tidak ada yg STRES kalau kalah dalam pemilihan RT, tapi kalau kalah pemilu berakhir dengan stres, kerusuhan, dan kerusakan moral.

2. Fatwa ulama hanya terkait masalah COBLOS, tidak ada ulama yg menyuruh jadi JURKAM, TUKANG RAMAL, MAKELAR CAPRES, POLITISI PINGGIRAN.
Anehnya fatwa itu dibawa sesuka hatinya untuk nyempung ke jurang PERJUDIAN.

3. Fatwa ulama dimulai dengan peringatan bahaya demokrasi dan jangan sampai kebawa oleh sistem yg salah. Namun oleh para KABAYAN, peringatan ulama tentang bahaya demokrasi DISEMBUNYIKAN, yg diangkat hanya seputar coblosnya saja. Ini mengkhianati fatwa ulama.

4. Isi fatwa ulama terikat dengan beberapa persyaratan, adanya mudharat dan manfaat yg yakin, bukan sekedar RAMALAN. Jadi fatwa ulama jangan dibuka lebar lebar, seolah olah tanpa syarat.

5. Fatwa ulama hanya bersifat darurat, hukum asalnya tetap tidak boleh karena bagian dari sistem kuffar. Berbeda dengan hukum MUBAH apalagi WAJIB.
Nah, sekarang para ABG menggiring fatwa itu seolah olah jadi wajib.

6. Fatwa bisa tepat bisa juga tidak, bisa benar bisa salah. Maka kembalikan kehukum asal pemilu yg merupakan bagian dari demokrasi. Bahkan PEMILU adalah inti demokrasi, kalau ndak ada pemilu berarti ndak ada demokrasi. Bahkan pemilu dinamakan PESTA DEMOKRASI.
Menolak demokrasi lalu menerima pemilu adalah bentuk KERANCUAN INTELEKTUAL.

7. Adanya pihak pihak yg memanfaatkan farwa ulama, untuk kepentingan golongan dan pribadi. Memanfaatkan jumlah salafiyin yg mulai membesar dan adanya agenda tersembunyi oleh PENUMPANG GELAP dalam menghancurkan dakwah dengan masuk ke pusaran politik kuffar.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. [QS. Al A’raaf 175-176}

Sumber:
Status Ustadz Ilham Tabrani

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Lain-Lain, Manhaj. Tandai permalink.